IHSAN
Untuk memenuhi tugas Agama Islam
Guru pembimbing :
Bpk.Galih Subehan
Disusun oleh : Jati Imanulloh (XII Mipa 4)
SMA NEGERI 1 CITEUREUP TAHUN AJARAN 2016/2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke
hadirat Allah Subhanahu Wa Ta‟ala atas terselesainya makalah ini,walaupun masih jauh dari
kesempurnaan. Makalah yang saya buat berisi materi tentang Ihsan. Makalah
ini bertujuan untuk meningkatkan
ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta‟ala. Dalam Penulisan makalah ini
saya merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan
maupun materi. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan Makalah ini.
Demikianlah sebagai pengantar kata
dengan harapan semoga makalah ini dapat diterima dan bermanfaat bagi
pembaca. Amin
Bogor,
29 Juli 2016
PENGERTIAN IHSAN
Ihsan berasal dari kata حَسُنَ yang artinya adalah berbuat
baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah اِحْسَانْ, yang artinya kebaikan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an mengenai hal ini.
Jika
kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (al-Isra’: 7)
“…Dan
berbuat baiklah (kepada oraang lain) seperti halnya Allah berbuat baik
terhadapmu….”
(al-Qashash:77)
Ibnu
Katsir mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud
dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh makhluk Allah SWT.
• Ihsan dianalogikan sebagai atap
bangunan Islam (Rukun iman adalah pondasi, Rukun Islam adalahbangunannya).
• Ihsan (perbuatan baik dan berkualitas) berfungsi sebagai pelindung bagi bangunan keislaman seseorang. Jika seseorang berbuat ihsan, maka amal-amal Islam lainnya atan terpelihara dan tahan lama (sesuai dengan fungsinya sebagai atap bangunan Islam).
• Ihsan (perbuatan baik dan berkualitas) berfungsi sebagai pelindung bagi bangunan keislaman seseorang. Jika seseorang berbuat ihsan, maka amal-amal Islam lainnya atan terpelihara dan tahan lama (sesuai dengan fungsinya sebagai atap bangunan Islam).
LANDASAN IHSAN
1. Landasan Qauliy
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan untuk berbuat ihsan terhadap segala sesuatu. Maka jika kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang ihsan, dan hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan (menenangkan & menen-tramkan) hewan sembelihan itu” (HR Muslim). Tuntutan untuk berbuat ihsan dalam Islam yaitu secara maksimal (terhadap segala sesuatu: manusia, hewan) dan optimal (terhadap yang hidup maupun yang akan mati).
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan untuk berbuat ihsan terhadap segala sesuatu. Maka jika kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang ihsan, dan hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan (menenangkan & menen-tramkan) hewan sembelihan itu” (HR Muslim). Tuntutan untuk berbuat ihsan dalam Islam yaitu secara maksimal (terhadap segala sesuatu: manusia, hewan) dan optimal (terhadap yang hidup maupun yang akan mati).
2. Landasan Kauniy
Dengan melihat fenomena dalam kehidupan ini, secara sunatullah setiap orang suka akan perbuatan yang ihsan.
Dengan melihat fenomena dalam kehidupan ini, secara sunatullah setiap orang suka akan perbuatan yang ihsan.
ALASAN KITA BERBUAT IHSAN
1.
Adanya Monitoring Allah (Muraqabatullah)
Dalam HR Muslim dikisahkan jawaban
Rasul ketika ditanya malaikat Jibril yang menyamar sebagai manusia, tentang
definisi ihsan: “Mengabdilah kamu kepada Allah seakan-akan kamu melihat Dia.
Jika kamu tidak melihatNya, sesungguhnya Dia meIihatmu”.
2.
Adanya Kebaikan Allah (Ihsanullah)
Allah telah memberikan nikmatnya
yang besar kepada semua makhlukNya (QS. 28:77 QS. 55, QS. 108: 1-3)
Dengan mengingat Muraqabatullah dan Ihsanullah, maka sudah selayaknya kita ber-Ihsanun Niyah (berniat yang baik). Karena niat yang baik akan mengarahkan kita kepada:
Dengan mengingat Muraqabatullah dan Ihsanullah, maka sudah selayaknya kita ber-Ihsanun Niyah (berniat yang baik). Karena niat yang baik akan mengarahkan kita kepada:
v Ikhlasun Niyat (Niat yang Ikhlas)
v Itqonul ‘Amal (Amal yang rapi)
v Jaudatul Adaa’ (Penyelesalan yang baik)
Jika seseorang beramal dan memenuhi
kriteria di atas, maka ia telah memiliki Ihsanul ‘Amal (Amal yang ihsan).
Ada 3 keuntungan jika sesorang
meramal dengan amal yang ihsan:
Ø Dicintai Allah [2:195]
Ø Mendapat Pahala [33: 29]
Ø Mendapat Pertolongan Allah [16:128]
3.
Pertolongan dari ALLAH
“dan sungguh, ALLAH beserta orang-orang yang berbuat baik” QS 26:69
“dan sungguh, ALLAH beserta orang-orang yang berbuat baik” QS 26:69
TIGA
ASPEK POKOK DALAM IHSAN
Ihsan meliputi tiga aspek yang
fundamental.Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak.Ketiga
hal ini lah yang menjadi pokok bahasan kita kali ini.
A. Ibadah
Kita berkewajiban ihsan dalam
beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa,
haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat,
rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan
oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia
dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya),
juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa
memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya.
B.
Muamalah
Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah SWT pada surah an Nisaa’ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…”
Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah SWT pada surah an Nisaa’ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…”
Beberapa contoh ihsan dalam hal
muamalah
Pada Perang Uhud, orang-orang
Quraisy membunuh paman Rasulullah saw, yaitu Hamzah. Mereka mencincang
tubuhnya, membelah dadanya, serta memecahkan giginya, kemudian seorang sahabat
meminta Rasulullah saw. berdoa agar mereka diazab oleh Allah. Akan
tetapi, Rasulullah malah berkata :
اَلَّلهُمَّ اهْدِ قَوْ مِيْ
فَاِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
“Ya Allah, ampunilah mereka, karena
mereka adalah kaum yang bodoh.”
C. Akhlak
Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.
Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang—yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya, maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits :
Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.
Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang—yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya, maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits :
اِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ
مَكَارِمَ اْلأَ خْلَاقِ
“Aku diutus hanyalah demi
menyempurnakan akhlak yang mulia.”
KESIMPULAN
Ihsan
adalah berbuat baik. Ihsan merupakan puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa
menjadi target seluruh hamba Allah SWT.
Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya
sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari
aqidah dan bagian terbesar dari keislamannya. Karena Islam dibangun di atas
tiga landasan utama, yaitu iman, Islam,
dan ihsan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar